Home

hurm

Thursday, February 10, 2011

Meindui Mu

Saat kulihat diri-mu
Kulihat kesucian-mu
Keindahan-mu
Dan semerbak harum hati-mu

Aku mengharapkanmu
Tuk selalu berada di sisiku
Satu malam yang berlalu
Tak kan pernah kembali
Waktu yang terlewati
Membuatku mengerti
Bahwa aku selalu mencintaimu
Kemurniaan hati-mu
Kesucian batin-mu
Keindahan mata-mu
Tak terlukis oleh kata2
Sungguh indah dirimu
Bagaikan bidadari
Turun dari Surga
Cantik dan Suci
Satu yang ingin selalu kukatakan
Aku selalu mencintaimu
Sekarang…Esok..
Maupun akan datang
Sampai akhir hayatku
Biarlah ajalku menjemput
Ku kan selalu mencintai-mu
Kekasih hati-ku…..
Tak kan pernah dan Tak kan bisa aku menghianati-mu
Karena aku akan mencintaimu sampai berakhirnya waktu-ku
Kamu harus kuat, “Waktu-ku” akan menjadi “Waktu-mu”
“Mata-ku” adalah “Mata-mu”
“Hidup-ku” adalah “Hidup-mu”
Kuatlah, Cahaya akan ada bila kau mau memilih

Tuesday, February 8, 2011

Aku Yang Sedih

Akhir nya sampai juga aku di sini:) hepy juga la aku kena amik oleh kawan ku...tak sangka plak dorang sanggup mengambil aku:D hahhaha apa² pun thx wat kamu:) tapi hari ne hanya seketika sahaja aku hepy..aku tak tahu la kenapa..tak pasti kalau dia marah or tak:) aku baru sahaja nak hepy sama kawan² aku..lepas kan semua tension di kepala aku:) sangat hepy bila kuar sama dorang:)entah la bila lagi dapat jumpa mereka² :) huh..tapi..kenapa ka dia block aku untuk tengok wall dia:)apa ka kesalahan yang aku lakukan:) ada ka kerana gambar kau cemburu :)atau apa pun aku tak tahu:) aku tahu aku tak layak untuk memiliki diri mu atas sebab berjauhan:) aku faham:) tapi jangan la ko buat begitu:) bagi aku lain :) tak sedap hati aku:) tolong la:) jangan simpan semua itu di lubuk hati kau:) semua itu hanya la kawan yang aku percayai:) tiada maksud tersirat untuk mereka mahu merampas aku dari kau:)tolong fikirkan sejenak:) jangan sampai suatu masa nanti engkau menyesal dengan perbuatan kau:)dan jangan buat aku merana:)

Monday, February 7, 2011

Yang Tak Terlupakan


Langkahku terhenti saat hati mulai mencair karena rindu…
Tataplah mentari, karena hari ini semuanya harus kita akhiri
Genggamlah jariku, karena mungkin kita tak mungkin kembali ke masa-masa ini…
Peluk tubuhku ini, karena sungguh… aku ingin..
Pertama ku sentuh warnamu, saat hati ini gersang, penuh dengan debu….
Sperti Oase yg bangkitkan hasrat untuk berbagi angan.. kamu hadir bawakan aku Cinta..
Kamu buat aku tertunduk, merenung, dan menatap jauh ke dalam mata indahmu
Sungguh.., aku telah tenggelam dan hanyut dalam lautan cinta terlarang ini..
Saat kututup mataku, terbersit keinginan untuk bawa kamu jauh kedalam kehidupanku
Saat kuyakinkan hati ini bahwa kamu mampu bertahan dengan semua keadaanku saat ini
Selalu ada sesuatu yang memaksa aku berfikir kembali untuk melangkah lebih jauh
Sampai di Titik ini, aku harus menjawab… mengapa hatiku sering bimbang
Jujur…. dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam.. aku katakan…
Aku sayang kamu…… Aku cinta Kamu… Aku akan selalu rindu padamu…..
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padamu
Hingga buatlah kamu benci padaku karena perasaanku ini…
1 Tahun lebih, kita putuskan untuk arungi lautan yg penuh gelombang ini bersama-sama
Berbekal hati yg terluka, coba abaikan sakitnya, penuh harap, gantungkan angan diangkasa…
Walau hampir basah pipi ini dengan air mata tak percaya…
Getir…. Saat kau ucapkan setiap kata yang terbungkus cerita tentang kamu dengan dia…
Tapi sudahlah, aku bisa terima semua itu… dan berharap, tak ada lagi cerita yg keluar dari bibirmu tentang masa lalumu itu, karena aku masih ingat jelas rasa sakitnya…
Sejak saat itu, hariku tak lagi membosankan…
Sejak saat itu, ada wajah dan warnamu dalam setiap ruang di hati dan fikiranku
Ada senyummu, pandanganmu dan suaramu di sela-sela aku menghela nafas…
Sungguh, kamu begitu memberi arti di dalam kisah hidupku
Sampai kusadari, aku bukanlah orang yang kau cari…
Aku bukanlah pangeran dalam mimpimu…
Aku bukanlah pembawa bahagian di masadepanmu,
Aku hanya seorang pemimpi, yg dapat halangi kamu untuk temukan belahan hatimu yang lain..
Aku tak bisa menjadi tanpa batas dimatamu…
Akupun Kadang tak bisa selalu ada disisimu saat kamu butuh aku..
Aku tak bisa janjikan waktu-waktu indah untuk kamu,
Aku sadar benar, semua ini menyiksamu… aku dan kenangan-kenangan kita
Bila kita tak mungkin lagi bersatu,…
Sungguh….
Aku akan tetap berusah selalu ada untuk kamu,
Walau tak mungkin lagi hatimu utuh untukku..
Semoga kamu temukan cinta sejatimu, tanpa batas… hingga dunia tau….
Sesungguhnya ada ruang di dalam mata indahmu..
Ruang yang hanya pantas diisi dengan cinta tulus dengan hati…
Aku Cinta Padamu…
Terima kasih, untuk semua sayang dan cintamu.. yg membuat aku akan sangat kehilanganmu..
Jangan lupakan aku.. sungguh, kisah ini jadi penggalan manis dalam hidupku,
Walau pada akhirnya “kita cukup sampai disini….”
Mungkin, Sampai aku kembali lagi…

Aku Yang Sepi

aku yang di sini
terduduk tiada teman
terlamun tiada kawan
menatap hampanya langit pekat
pandangi miliaran bintang di angkasa
berteman media maya..

siapakah yang mau menjadi kawanku
sunyi dan sepi
detak jam memecah sunyi
dan aku hanya dapat memandangi bintang bintang
bintang bintang yang membisu

dalam kegelapan malam…

Sunday, February 6, 2011

Pengakuan seorang penyair

SEJAK kecil, saya memang menggemari sunyi dan bersendirian. Selalunya, selepas sekejap mencampuri riuh berteman sebaya, saya memilih untuk merayau sendirian di dalaman hutan kecil di pinggir kampung, berenang di lopak atau berakit melayan imaginasi masa kanak di tali air yang membelah sawah. Ketika bersunyi dan bersendirian begini, saya nikmati kelasakan serta ghairah masa kanak dengan rasa seronok yang tidak terperi. Setelah mulai beranjak remaja dan belajar menafkahi diri dengan keringat sendiri, makna sunyi itu semakin dimengerti. Segala resah dan galau perasaan ketika mendepaninya, semakin cepat mendewasakan diri dan mengajar makna hidup sebagai manusia. Kesunyian dan kesendirian juga mengajar diri betapa segala duga hidup perlu dihadapi dengan jiwa kekar dan tidak ada ertinya segala riuh jika hidup akhirnya hanya disendati angin semata. Di tengah nyata hidup, diri semakin mengerti betapa tidak ada gunanya terlalu menonjolkan diri jika tampilnya sekadar menjadi badut atau bagaikan parasit menumpang kukuh pihak lain..


Kerana itulah, ketika berada di tengah dunia seni serta sastera yang sentiasa heboh ini, diri memilih hanya akan datang atau muncul bila dirasakan benar-benar perlu dan kemudian akan dengan segera pula menghilang bila sudah menyelesaikan tugasnya. Sehingga kini pun, diri masih tetap ingin menyendiri dan malah sering juga dengan sengaja memilih untuk bersembunyi dan kalau muncul juga di mana-mana, selalu jauh di dasar sanubari, terpercik di dalam diri sedikit rasa malu dan tersipu-sipu. Semua ini lantaran amat menyedari betapa sebagai makhluk Tuhan, diri ini sebenarnya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan sejumlah nama lain yang terlebih dahulu muncul dan tentu saja jauh lebih banyak serta bernilai segala bentuk sumbangan seni serta sasteranya. Malah diri juga menyedari dan selalu meletakkan hakikat dirinya hanyalah sebagai seorang yang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan segala kekuasaan dan kemasyhuran yang lebih hakiki di dunia sementara ini, sebagai seorang yang anonim, yang tidak merasa begitu perlu untuk meminta segala pujian mahupun sanjungan yang berlebih-lebihan

Namun begitu, bila dirasakan benar-benar perlu serta mendesak, diri yang ingin menyendiri dan sering juga dengan sengaja memilih untuk bersembunyi ini boleh jadi juga akan tiba-tiba bangkit berteriak atau membentak untuk menyatakan sikap dan pendapatnya terhadap sesuatu isu atau peristiwa yang khusus melibatkan diri serta masyarakat bangsanya. Pertanyaan demi pertanyaan yang bergaung di dalam jiwa, gugahan demi gugahan yang bertalu-talu mendesaki perasaan serta fikiran akhirnya membuatkan diri boleh menjadi lupa dengan sekelip mata akan rasa malu dan tersipu-sipunya. Lalu bersama bahang semangat, segala tumpuan fikir serta perasaan, diri melayani pergulatan peribadinya sebagai seorang seniman. Namun, untuk dapat bangkit berteriak atau membentak menyatakan sikap dan pendapat, serta mengajak diri terus menyedari hakikat akan pergulatan emosi serta fikirannya sebagai seniman, diri sebenarnya telah memilih sekian jumlah manusia sebagai “guru”. Dari mereka, sama ada secara langsung mahupun tidak banyak yang dipelajari dan sekaligus sedikit cuba diteladani.

Kalau pun tidak semua, sedikit sebanyak pengetahuan seni diri terbentuk dan terbias dari pengalaman perguruan ini. Sekaligus juga diri cuba membentuk sifat dan kediriannya sendiri. Agar betapa pun sekadar anonim, namun dirinya tetaplah juga sebutir titik di tengah peta sastera yang kadangkala dikumali debu dan warna yang entahkan apa ini. Tetapi kerana manusia tetap punya kelemahan dan rasa besar dirinya yang keterlaluan, ternyata untuk selamanya memilih manusia sebagai guru juga bukanlah jalan yang terbaik. Sering pada saat atau ketika tertentu, manusia yang pernah dianggap sebagai guru ini menjadi sebaliknya pula. Begitu juga manusia yang pernah bergelar sahabat. Bukan mustahil dalam sekelip mata atau kerana kepentingan lain juga boleh berubah menjadi serigala atau ular. Kerana itu, pengalaman dan buku (yang terpilih) menjadi guru berikutnya yang lebih dapat dianggap tidak terlalu banyak kembali meminta imbalan dan balasan dari diri. Pengalaman yang pada zahirnya seolah membisu selalu menghantar isyarat dan petunjuk. Melalui buku pula, luas ilmu serta khazanah hikmahnya sentiasa tidak habis untuk ditelaah dan dihayati.

Kerana itu, pengalaman dan buku (yang terpilih) menjadi guru berikutnya yang lebih dapat dianggap tidak terlalu banyak kembali meminta imbalan dan balasan dari diri. Pengalaman yang pada zahirnya seolah membisu selalu menghantar isyarat dan petunjuk. Melalui buku pula, luas ilmu serta khazanah hikmahnya sentiasa tidak habis untuk ditelaah dan dihayati. Lalu sekali lagi proses untuk bersembunyi dan menyendiri itu berulang. Di tengah dunia yang galau dan bising ini, diri berasa lebih tenteram bersunyi. Bukan kerana membenci tetapi kerana dengan sengaja memilih untuk mencari hanya inti dari hidup yang amat singkat ini dan cuba mengisinya dengan sesuatu yang dapat dianggap bererti. Dengan harap, setidaknya bila tiba waktu untuk berangkat, telah ada secuil yang telah ditinggal dan yang secuil ini setidaknya, menjadi tanda bahawa si pemilik hidup sementara ini tidak menyia-nyiakan waktunya hanya dengan heboh dan alpa sentiasa.

Berpuisi itu memang dunia yang sunyi. Tetapi kesunyian itulah yang selalu dicari. Kerana hanya dengan sunyi sajalah diri berkesempatan untuk merenung. Hanya dengan merenung dan bersunyi, diri berasa kembali memperolehi hakikatnya sebagai sebatang tubuh yang masih punya roh dan bukan semata-mata sebatang jasad yang tidak bererti sebagai apa pun. Dengan merenung dan bersunyi juga, diri yang kecil ini berharap semoga tidak akan selamanya hanyut dan sama terseret di tengah segala sebok serta kebisingan dunia, sehingga melupakan asal serta usulnya dan tugas yang perlu dilaksanakan sebelum berangkat ke tanah abadi
Melalui dunia yang sunyi ini jugalah diri cuba menemukan jawapan terhadap sejumlah persoalan hidup peribadi dan dunia yang melingkunginya. Walaupun jawapan itu bukanlah sesuatu yang mutlak, namun betapa pun sifatnya sementara dan selalunya berlanjut pula dengan tanya yang lain, setidaknya diri dapat juga menghindari dari perangkap prasangka dan perasaan palsu yang melulu.Selagi bernafas, segala resah dan galau diri tetap akan berlanjut. Namun itulah pula yang menjadi rencah nikmat hidup sebagai manusia. Segala resah dan galau akan mendorong diri untuk terus bertanya. Kerana itu, diri akan kembali ke dunia sunyinya sendiri dan dunia itu tidak lain adalah puisi

Betapa pun sunyinya dunia ini, itu sudah menjadi pilihan. Dunia yang sunyi ini, menawarkan segalanya: rasa bahagia, rindu dan sakit sekaligus. Dengan sunyi dan puisi: hati yang galau dapat dipujuk supaya bertenang dan bertawakal, di dalam sakit terpacul pula rasa nikmat serta insaf dan dengan rindu diri terus mengheret galau hatinya cuba mencari sesuatu yang terbaik dari segala muslihat dunia.Itulah nikmatnya menjadi seorang penyair. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Walaupun dunia yang saya pilih adalah dunia yang sunyi, tetapi saya tetap berasa bahagia kerana dapat sedikit berkongsi sesuatu dengan orang lain. Dan sebagai penyair, itulah yang saya ingini dari hidup yang pendek dan singkat ini.

.

Saturday, February 5, 2011